Rabu, Februari 3

Fajar Ini

olehh Yulia Gustina Nasrul di 2/03/2016 02:20:00 AM 0 comment
Kata terengkuh dalam balutan fajar mendekap pagi.
Tercurah di tiap tetes embun sentuh jemari dedaunan.
Ah, tegur sapa yang indah

Pada siapa lagi aku bisa mencurahkan segala sesak dunia yang membutakan jika bukan pada Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya. Pada siapa lagi aku mengadu jika bukan pada Dzat yang hidupku tergantung pertolongan-Nya. Pada siapa lagi aku memohon jika bukan kepada Dzat yang Maha mengabulkan permohonan hamba-Nya. Pada siapa lagi air mata ini tak terbuang sia-sia jika bukan karena penghambaanku kepada-Nya. Pada siapa lagi sujud ini punya arti jika bukan bersujud kepada-Nya. Ya, kepada-Nya yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, yang hidupku karena-Nya, yang bahagiaku Dia yang cipta. Semua karena-Nya yang Esa.
          Beratus jejak berkarat tertimbun debu membeku. Jika bukan karena kasih ampun-Nya kepada kita dosa-dosa menggunung tak kan tergadai walau dengan seribu sujud yang raga ini telah rubuh karenanya. Walau langkah terseok menuju bakti nan suci memuji-Nya. Bahkan dengan pedang terhunus menancap di dada pun tak kan mampu menghapus karat-karat dosa ini.
          Hening. Pada fajar ini ku temukan kedamaian merasuki jiwaku terdalam. Aku rindu ayat-ayat Tuhan. Aku rindu berbicara pada-Nya. Aku rindu kala kening mencium sajadah dengan air mata tanpa paksa. Aku rindu kala air mata membasahi pipi meratapi dosa. Aku rindu ketenangan seperti ini.

          Mungkin aku tak kan bosan mengulang bait-bait do’a dengan lidahku yang kalu. Biarlah. Aku tak ingin waktu ini merenggang. Aku ingin di waktu ini, menikmatinya. Agar mampu ku maknai setiap nyawa yang bukan hanya sekedar nafas tanpa makna, atau hidup tak hanya sekedar tangisan tanpa suara. Di waktu ini aku memahami, aku hanya seonggok daging yang diberi nama. Lantas apa jadinya seonggok daging itu tanpa tahu ia berasal dari mana dan mau kemana.

Kamis, November 19

Rindu

olehh Yulia Gustina Nasrul di 11/19/2015 06:28:00 AM 0 comment
Seperti apa harus dikata? Ketika perasaan risih tak tentu. Sedikit-sedikit tak enak hati, perut mules, pikir tak karuan. Apa yang mesti dilakukan? Kata-kata 'All is well' tidak lagi mampu mengurangi kerisauan. Kau pasti tau, hanya ada satu obat penawar, yaitu Rabb. Kembalikan rindu kepada-Nya. Gantungkan harapan pada genggaman-Nya. Dan jadikan Dia satu dan satu-satunya cinta.

Rabu, Agustus 19

Langkuik Tamiang Malalak

olehh Yulia Gustina Nasrul di 8/19/2015 09:51:00 PM 0 comment
Lokasi : Sinaia (Sini Air - Paladangan Malalak Selatan
Tempat parkir : dekat tulisan " Dari Bukittinggi" atau Di "SD N "

Biaya masuk : Rp 10.000/org
Guide : rp100.000/klmpk






Selasa, Februari 18

Seindah Jantung 3805 mdpl

olehh Yulia Gustina Nasrul di 2/18/2014 12:33:00 AM 0 comment
Hai tim, apa kabar ??
My adventureeeee J sekarang gunung kerinciiiiii :D
Kali ini pendakian di gawangi rekan rekan saya yang biasa, nizar, Ramli dan Saya (Lina) oh iya satu lagi :D anggota baruuuu -> kk Yulia alias kak aya J hai kak salam kenal, jiahahahahaa :D kami juga baru kenal sih sama nih orang, kenal dari twitter, pas ketemu anak nya asik cpat akrab juga :D dan jadilah kami petualangan kali ini 4 orang :D
Perjalanan di mulai dengan nekat, karna belum satupun diantara kami yang pernah ke gunung kerinci :D ok fine,
31 januari 2014 J
19.00 WIB, kami berkumpul di bandar buat padang, untuk pertama kali ketemu kak aya, salaman basa basi dikit dan josss nyambung pemirsaaaa :D sambil ngobrol ngobrol trus saya mratiin carriernya dia, buseeet gede amaat bro, jauh di banding punya saya, tapi gapapa sesuaikan dengan badan dong :D
20.XX WIB, bus yang sudah kami pesan akhirnya datang juga, carrier di masukkan dan kami juga di masukkan,*eh masuk sendiri maksudnya J perjalanan ke gresik tuo di mulai dengan tawa renyah-diemdieman-tidurtiduran-tidur beneran-mual-dan campuuur aduk lah, bus nya bauu di tambah sopirnya gokil bwa mobil kyak bawa bajaj aja :D bum buuuum dan saya tertidur pulas entah apa yang terjadi saya tidak tau.
1 februari 2014  J
03.00 WIB, dini hari coooooy saya terbangun (dibangunkan hehe) katanya udah nyampe gresik tuo :D waaah akhirnya, pas turuuun langsung di sambut tugu macaaan :D gila coy, yang selama ini saya liat di internett sekarang ada di depaaan mataa :D waw (lebay). Liat tugu macan kami langsung berhamburan ke sana foto foto duluuu :D pas lg seneng seneng nya nizar manjat ke atas tugu, saya ikutan naik juga di bantuin nizar, eh kak aya mau ikutan juga pas di tarik nizar entah apa,entah kenaapa (mungkin kak aya terlalu berat kalii ya, pisss kak. Hehehe) tarikan nizar lepas dan bruukkk kak aya jatuh kira kira tinggi 2 meter, lumayan tinggi lho :D nizar jatuh juga sih, tp dia kan cwo tinggi pula jdi ga masalah. Kembali ke kak aya J dia kesakitan dan saya masih diatas tugu ga bisa turun ga bisa nolongin ga biisa panik (eh panikkk berat maksudnya) ya sudah jadilah ramli dan nizar yang bantuin, kasiiian sih liat kak aya pas jatoh, bunyinya aja ngeri apalagi sakitnya tuh.
 10 menit kemudian kak aya mulai tenang mulai bediri lagi, dan pinggangnya bermasalah. Katanya InsyaAllah masih bisa nanjak, ya sudah untuk penghibur pinggang kak aya yang sakit dia di tawari naik tugu macan lagi, kali ini dengan 2 orang personil ramli dan nizar J yihaaaa kak aya sampai juga dii macannya, *eh di tugu macan J dan diia foto foto sama macan. Lah saya ? perasaan saya yang tadi dluan naik belum ada foto foto deh, ya sudahlah saya sudah terlanjur turuuun. Oke, lanjuut lagi track awal simpang tugu macan menuju R-10 tempat pelaporan, kira2 jalan 1 jam kurang kami sampai di sana dan tidak ada penjaga, kami memutuskan untuk istirahat sambil menunggu penjaga pos, kak aya tidur, ramli tidur, saya tidur tiduran, nizar duduk J
06.00 WIB, penjaga belum juga datang, dingiiiin bro :D masih nunggu pak penjaga pos, beliau tak kunjung datang L
07.00 WIB, belum datang juga, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa melapor terlebih dahulu. Sekarang menuju pintu rimboooo, di perjalanan kami temui ladang pertanian penduduk, 1 jam berjalan kami sampai di track awal pendakian, pintu rimboo. Lanjut lagi J kaki kami masih semangat melangkah, kecuali kak aya yang lumayan kesakitan J hahahahhaa, pisss kak J
08.43 WIB kami sampai di pos 1 istirahat sebentar dan mencari sumber air, hasilnya nihiiil L padahal sudah lapaaar pemirsa L karna air tidak ada dan persediaan air kami juga tidak ada maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan perut keroncongan J (senyum terpaksa).
10.30 WIB kami sampai di pos 2, buru buru cari air dan kami dapat air di sisi kiri pos 2. Langsung tancap dan saatnya masak masaaak :D koki baruuu kami “kak aya” hehehee. Ayooo kak, semangaaat, sini na bantuiiin J heheee. Kali ini baru terasa menikmati perjalanan nya, kami jalan santai nikmatii alam, hijau, oksigeeen. Stelah selesai masak, kami makan, foto foto dan ketemu pendaki lainnya, rombongan dari bukittinggi kebetulan kenal sama kak aya dan akhirnya kami gabung :D (samasamaperdana). Lanjut lagiiii tanjakan udah mulai melawaaan bro, kaki mulai nyerah, apalagi kak aya, pinggang nyaaa itu lho :D (ma’af kak) hehe, tanjakan terasa peluh terasa body pack terasa (nah lo terasa apaaa na, hehe) masiiih lanjut masih tanjakan, pos 3 belum menampakkan wujudnya. Ngos ngosan bro, tapi tenaaang saya udh jogging jadi ga kayak singgalang dulu, energi masih lumayan J
Jam 12.XX WIB kami sampai di pos 3, istirahat dulu, sekalian sholat zhuhur, tapiii sayang kami tidak sempat mengambil foto di sini... karna badan udah letoy bro, kaki udh ngos ngos an, eh nafas maksudnya :D  setelah istirahat dan sholat kami lanjut lagi, sekarang anggota kami 7 orang, dapat tambahan anggota di pos 2 tadi 3 orang yaitu bg kutaik, bg tajik, bg amaik :D namanya keren keren yah J sesuatu banget, hahahaa. Kak aya kayak orang mau ko’id gituu mukanya :D hahhaa, pinggang sakit, carrier berat, untung ada nizar yang bantuin nanjak, ada saaya juga (kepedean). Bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian, yasudah nikmati saja perjalanan kita, Tim J (sia yang nyuruah mandaaaki). Oh shelter 1 dimanakah engkaaau L tanjakan mu itu lho, parah !! go go go go TIM, semangaaaat 3805 mdpl menunggu kita :D
16.00 WIB kami sampai di shelter 1 dirikan tenda, keluarkan jaket, dan duduk didalamnya, hangatkan badan dengan kopi panas, huuuah dingin bro. Dsini kami camp dulu, besok baru lanjut perjalanan karna kami memutuskan untuk tidak berjalan pada malam harii. Setelah magrib suhu makiin dingin, waktunya pasang jaket, seleeping dan atribut lainnya. Dan gooo ‘ngorok’ !!

02 februari 2014  J
Pagiii dunia J pagi uda ramli, nizarrr, dan pagiii kak aya J gimana pinggangnya ? makin parah atau makin ga bisa jalan ? (lho, sama ajaaa itu naa). Waktu nya masak, sarapan, packing dan mooooove lanjut bro !!
10.00 WIB kami berangkat dari shelter 1 menuju shelter berikut berikutnya, dan tahukah andaaa ? tracknya membunuh *lebay. Tapi iya sih, tracknya ngeriii tinggi tinggi bro, lebih tinggi dari saya malahan, kalo ga pecaya liat deh di album foto saya :D udah udah makin ngelantur, nikmatiii saja, sesekali kami istirahat, sering sih istirahatnya, apalagi kak aya :D hahhaa :D
12.30 WIB kami sampai di shelter 2 istirahat dulu sambil cari air, dan masak minum dulu, tambahan energi, setelah istirahat dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan (resmi banget bahasany :D) dari shelter 2 ke shelter 3 ini ternyata tracknya luar biasa, ganassss !! ini ga lebay tapi fakta, ampuuun. kak aya aja ketinggalan jauuuh hahahhaa (sok bana adeen ko yo) tetap semangaaat apapun keadaannya, ayooo geeenk kita harus bisaaa. Saya duluan sama ramli, sambil nyorakin kak aya di belakang, “kaaaaak, shelter 3 nih (bohong) J. “kalo naaa bohong push up yaa 1 seri”, di jawab juga sama dia, hehe. “iyaaa kak, ayooo cepetan ini shelter 3”, saya bohong pemirsa. Tapi gapapa itu ampuh ternyata, kak aya jalan nya makin cepet kalo di bohongon. Huuuhaaaaaaaah akhirnyaaaaa shelter 3 J

16.31 WIB kami sampai di shelter 3 J udh soree ternyata, sementara mereka mendirikan tenda, saya dan kak aya menyibukkan diri dengan foto fotooo, harus ituuuu :D  dan kami dapaat sunset bro, tapi dinginnya luar biasa L setelah tenda berdiri gagah melawan angin badai, kami masuk, masak, daaaan ngobrol, lanjuuut lagi “ngooorok” hehehehee.

3 februari 2014
Kira kira jam 06.00 WIB kami banguuun, waaah beda jauh dari pendaki pendaki pada umumnya, orang lain bangun pagi shubuh buat nanjak ke puncak, kalo kami tunggu matahari nongol dulu baru ke puncak, penyebabnya adalah, kami ga tau jaluuur ke puncak, hahahaha :D makanya tunggu bantuan matahari dulu J kira kira jam 10.30 WIB kami mulai perjalanan ke puncak, heeei summit attack J I like it, tapi tidak bagi kak aya, berhubung pinggang nya sakit jadi ini sungguh sungguh menyakit kan, *hooooow lebay :D tapi beneran, kak aya kayak ga kuat gitu, bukan karna fisiknya, tapi karna insident di tugu macaaan, hampiiir nyerah dia, ga ada yang boleh nyerah kalo udh sejauh ini, kita mulai sama sama dan kita di puncak sama sama, kita luar biasaaa J ok, kak aya ga jadi nyerah, jalurnya mantap naik 2 langkah turun 1 langkah dan itu sangat melelahkan, kawan. Matahari udah mulai tinggi kami tetap jalan pelan pelan dan santai, akhirnya sampai di tugu yudha, tugu untuk menghormati pendaki dari jakarta yang hilang dsana, entah kemana perginya beliau, itu lah misteri gunung tidak ada yang tau apa yang akan terjadi, dan apa takdir kita disaana, sejenak kami berhenti disana dan berfoto, setelah itu kami lanjut lagi, kira kira jam 1 kami sampai di puncak, ternyata puncak kerinci ga kayak yang saya bayangin, di puncak Cuma ada 2, dataran selebar 1 meter lebih dan panjang berapa ya ? lumayan panjang sih, setelah itu Cuma ada kawaaah men, kawaaaah. Gila tu kawah kegedeaaan bro, dalem pula, puncaknya ibarat 90% terdiri darii kawah, kaki saya mulai disko L takuuuut soalnya hampir jatoh ke kawah. Kalo sempat jatoh entah lah, mungkin ga sempat nulis ini. Ok, sekarang foto foto sepuasnya (ga puas sih, soalnya kapten udh nyuruh turun, kabut) ehmmmm padahal masih pengen lama lama di puncak, tapi gapapa sekarang waktunya turun, turunnya enaaak, seluncuran kayak main sky :D sayang, kak aya ga bisa nikmatin karna pingggangnya sakiiit, seruuu. Sempat salah jalur juga pas turun, wuuuih lengkap ya harii ini. Sampai lupa jam berapa kami tiba di puncak dan jam berapa kami turun. Tiba ditenda kami langsung packing karna mau pindah camp di shelter 2, soalnya di shelter 3 badaaai L yasudaaaah kami pindah ke shelter 2. Perjalanan ke shelter 2 ini sungguh menyiksa, bukan buat kak aya, tapi buat sayaaaaa, saya ga sukaa turun gunung, kaki ini ga mau kompromi, tiap turun dia diskooo, iiihhhh L akhirnya sebelum malam alis sore sebelum magrib kami sampai di shelter 2 dan tenda kembali didirikan, sayaaa ? tepaaar, kepala sakit, ga kuat lagiii, untung ada kak aya, ya sudaaah saya tiduuur sampai pagi :D
4 februari 2014
Pagiiii semuaaa, masih dengan badan kurang fit L tapi its okkk J hariii ini kita memutuskan untuk turun, karna udh pada tepaaar. Sore kami sampai di bawah dan numpang nginap di basecamp nya @JelajahKerinci. Makasih yaaa sambutannya.
5 februari 2014
Pagiii lagi, hari ini kami mau pulang ke padaaang, tapi sempetin dulu foto foto di kebun teh dan tugu macaaaan (lagi) ,
“Kitaaa luuuuar biasa kawan, bangga bisa berada disini bersama mereka, sahabat sahabat tercintaaa J I LOVE U ALL.”
JANGAN TANYAKAN KENAPA KAMI MENDAKI GUNUNG, MENIKMATI ALAM. KARENA KAMI TAK TAHU KENAPA DAN MENGAPA, JIKA MAU TANYAKAN SAJA PADA HATI KAMI J JIKA KAU TAK TEMUKAN JAWABAN, AYO BERGABUNG BERSAMA KAMI DAN KAMI BERIKAN KAU JAWABAN DARI ATAS SANA, NEGRI DI ATAS AWAN.
“TERIMAKASIH 3805 METER DI ATAS PERMUKAAN LAUT, BADAI MU MENGHANYUTKAN KU BERSAMA MEREKA, SANG SAHABAT YANG SETIA MENEMANI LANGKAH LANGKAH KECIL KU”

NB: mau cerita lebih lanjut, klik this blog Kempagu

Rabu, Oktober 23

Ini Cerita Gue, Merapi

olehh Yulia Gustina Nasrul di 10/23/2013 03:55:00 AM 0 comment

Gunung Merapi, Sumatera Barat adalah salah satu gunung berapi aktif yang masih banyak dikunjungi oleh para pendaki baik dari organisasi [sispala, mapala] maupun  petualang bebas [FreeLance, Amatiran]. Selain kondisi medannya yang tidak berat, juga hamparan bukit barisan dan danau Singkarak serta  kekokohan Gunung singgalang menjadi pemandangan yang sangat mengagumkan. Tak hanya itu, para pendaki juga dapat menikmati indahnya pemandangan sunrise dari puncak merpati.
Ini bukan kali pertamanya gue menapakkan kaki di sini. Ya, di sini, di cadas Puncak Merapi. Pemandangan kearah Singgalang masih sama, masih indah seperti pertama kali gue duduk di sini. Singgalang masih kokoh menjulang. Masih menyimpan permata hijau murni yang menyejukkan. Cadas ini pun masih sama, masih kuat dan perkasa. Tapi entah kenapa, gue selalu kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekaguman ini. Subhanallah.

[16 jam sebelumnya]
Gue hampir lupa, hari ini Sabtu, 28 September 2013 pukul 1700 WIB. Gue bersama 8 orang lainnya [Bg Najim, Bg daus, K’ Ijuih (Mapala Jamarsingsia); Bg Lalex (Medan, Mapala Juga, tapi gue lupa namanya); Bg Uchup (Mapala Teknik UI); Bg Chairul (Taruna Siaga Bencana); Da Zul, Bg bejo (Freelance); dan gue (karena gue manggil abg n kak, otomatis gue yang paling kecil)] mulai melangkahkan kaki melewati pos penjagaan. BKSDA, pintu hutan telah terlewati dengan penuh canda baru yang renyah. Berhenti untuk ishoma. Setelah Isya, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, kira-kira 4 jam lagi bagi orang yang sudah biasa mendaki. Tapi tidak untuk kami, terutama gue. Gue terbiasa jalan santai, nggak buru-buru. Jadi, mau ga mau  mereka semua juga harus santai.
Ternyata cuaca sepertinya tak bersahabat dengan kami. Hujan, badai dan kabut menemani kami. Dingin mulai merasuki, menggigil, sesak nafas, tapi perjalanan tetap harus dilanjutkan. Akhirnya kami sampai di cadas. Dirikan tenda. Sepertinya tidak ada waktu untuk tertawa renyah seperti tadi. Tidak ada waktu untuk menatap pemandangan malam Bukittinggi dari sini.  Tidak ada waktu untuk saling bercengkrama sambil menutup malam menunggu pagi. Sepertinya memang tidak ada waktu untuk bersuara mala mini selain ‘ngorok’. Ah, tak seperti yang gue bayangin sebelumnya. Semua telah tertidur, kecuali gue.

[03.00 WIB, 28 September 2013]
Gue keluar tenda. Gue nggak percaya dengan apa yang gue lihat. Indah banget. Seperti hamparan warna-warni  bintang (Gila, bintang cuma satu warna). Padang Panjang dan Bukittinggi seketika berubah menjadi samudera berlian yang bersinar. Kabut yang tadinya menutupi kawasan itu menyingkir. Gue hanya bisa terdiam, sesak, bingung bagaimana cara mengungkapkan keindahan apa yang gue lihat. Kecewa yang tadinya menggelayuti pikiran gue berubah menjadi bahagia yang bahkan jika ada kapasitasnya akan lebih dari kapasitas itu. Pemandangan yang bisa gue lihat dengan mata minus aja seindah ini, apalagi dengan mata normal. Indah banget pokoknya.

[07.00 WIB, 28 September 2013]
Kecewa lagi. Gue nggak bisa lihat sunrise. Kabut telah kembali. Bahkan jarak pandang hanya sekitar 2 meter. Jadi gue putuskan untuk tidur saja. Toh, semalaman gue nggak bias tidur. Yupp, gue tidur. Belum lama tidur, gue udah dibangunin oleh riuh angin kencang. Nggak jadi tidur. Akhirnya gue dan kk Mona hunting foto aja. Walaupun berkabut, setidaknya ada moment yang bisa gue ingat.

[09.00 WIB, 28 September 2013]

Itulah waktu sekarang. Di sini. Sebaik apa pun rencana kita, jauh lebih baik rencana Allah untuk kita. Gue nggak bisa lihat sunrise, nggak bisa lihat danau Singkarak. Tapi gue bisa lihat sebesar apa diri gue. Gue bisa lihat kalo ketegaran gue tak setegar cadas. Satu hal yang gue sadari di sini, tak ada yang perlu dibanggakan dari hidup ini. Tak ada yang perlu disombongkan.

Kenapa aku selalu Rindu, Cadas

olehh Yulia Gustina Nasrul di 10/23/2013 03:22:00 AM 0 comment
Aku tak punya alasan pasti untuk sebuah perjalanan yang orang lain bilang aku tak kan sanggup melakukannya. Aku hanya mencoba menemukan sesuatu yang baru dalam hidupku, batinku. Ah tidak juga, aku telah terlalu sering menghabiskan waktu untuk hal yang satu ini. Berpetualang ke gunung. Ya, itu yang sering kulakukan. Mereka selalu bilang aku tak kan sanggup membawa carier dengan badanku yang kecil. Namun itu juga yang ku lakukan setiap kali mereka mengatakan hal yang sama, hingga mereka bosan. Kata-kata itu tak lagi keluar, tapi aku masih melakukan hal yang sama. Sampai sekarang aku masih belum menemukan jawabannya.
Alm. Soe Hok Gie sang demonstran pernah mengatakan “Hidup adalah soal keberanian menghadapi sesuatu yang kita tidak pernah mengerti, terimalah, hadapilah!” Ini bisa jadi. Ketika aku telah mengerti, aku akan berhenti.
Berdiri di sini, di cadas ini selalu ku rindukan. Menikmati angin yang menyentuh lembut pipiku, menatap hamparan bangunan di bawahku. Aku tinggi, berada di puncak gunung yang tak semua orang bisa melakukannya. Namun ada hal yang ku sadari di sini. Aku menyadari bahwa aku adalah makhluk yang kecil. Tak ada yang bisa melihatku di sini.
Dari kekosongan hatiku terdalam, ku hilangkan semua egoku, ku campakkan semua kesombonganku. Tak ada yang bisa ku banggakan dari hidupku. Semua milik-Nya yang Esa. Di sini, aku menikmati itu, menikmati kala hatiku meronta dengan penyesalan. Menikmati kala hatiku terenyuh pasrah. Di sini aku tersadar, aku hanyalah seonggok daging yang diberi nama. Lantas apa jadinya seonggok daging itu bila ia tidak mensyukuri. Di sini aku bisa menangis sekerasnya. Meraung sampai air mata tak lagi bisa menetes. Terisak hingga nafasku tak lagi terdengar. Hingga akhirnya, selalu ada penyesalan yang membuatku kalu.
Lelah tak kan menjadi penghalangku untuk kembali menginjakkan kaki di sini. Ketika kegelisahan mulai merasukiku, ketika hati mulai resah dengan dunia ini, ketika batin tak lagi menerima kehidupanku, ketika waktu memberiku kesempatan untuk pergi, aku akan kembali ada di sini, di cadas ini.

Apakah cadas ini yang membuatku rindu? Atau ratapan yang membuatku menghampiri cadas ini? Entahlah.

Rabu, April 10

Friendship

olehh Yulia Gustina Nasrul di 4/10/2013 12:52:00 AM 0 comment


Banyak banget kita temukan pembahasan-pembahasan tentang arti dari kata ‘sahabat’, ato dengan kata lainnya ‘friendship’, niru bahasa negara seberang, ato ‘best friend’, juga niru bahasa tetangga. Namun kesimpulannya hampir sama. Makna sahabat yang sebenarnya hanya dapat didefenisikan oleh mereka yang memiliki sahabat. Artinya, makna sahabat untuk setiap orang itu berbeda-beda. Tak terkecuali gue.
:m: :n:
            Menurut gue sendiri, sahabat itu seperti setangkai bunga. Tanpa tangkai, bunga itu tak kan indah. Dan tanpa bunga, tangkai pun tak ada artinya. Ato juga bisa diibaratkan kayak makan donat (Roti + coklat). Kalo hanya makan rotinya aja, pasti yang dirasain cuma hambar. Tapi kalo udah dikasih coklat, satu mana cukup. Ato juga bisa seperti ini, seperti pena sama kertas putih. Kalo kertasnya ga ditulis sama pena, ia akan tetap putih selamanya. Paling hanya berdebu dan kusam. Kertas itu tak kan dihiasi oleh cerita-cerita indah. Noktah. Kosong.
            :i: Maksud dari perumpamaan gue di atas, sahabat itu adalah sebuah subjek yang saling melengkapi. saling berbagi. Saling memberi. Sahabat itu saling mengerti dan saling memahami. Kenapa ya gue selipin kata ‘saling’? rasanya ga mungkin kita punya yang namanya sahabat, kalo hanya kita yang dimengerti, trus yang ngertiin dia siapa? Rasanya mustahil akan bertahan lama persahabatan itu bila yang dipahami hanya satu pihak saja. Ga ada katerikatan kalo seperti itu. Enaknya loe ajaaa...
            :h: Kalo kita punya sahabat, kita harus sama-sama ngerti. Jangan bilang ‘sahabat’ bila kamunya ingin dimengerti tapi kamu ga ngasih kode jika kamu ingin dimengerti. Memang benar, gue juga pernah dengar, seorang sahabat itu akan tau apa yang kita rasakan. Tapi tidak semuanya loh. Mereka mengerti karena kita menunjukkan tanda-tanda kalo ingin dimengerti.
            Intinya, kunci dari kata sahabat itu adalah ‘saling’. Kalo udah seperti itu, barulah kamu dan dia bisa dikatakan sebagai sahabat. Terlepas dari kata ’sahabat’, gue coba sedikit untuk share, bahwa tidak semua sahabat itu baik. Kalo dia ngajak kamu untuk melakukan hal-hal yang jelek kayak nyontek, mencuri, cabut, dsb, berarti dia bukan sahabat yang baik untuk kamu. Menurut apa yang pernah gue baca, sahabat itu, “Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena-Nya dan terpisah karena-Nya”. Please, be a best friend for your self n your friends.
:n: :b: :m:
 

Tanpa Nama Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei