Oalah, topik
apalah ini namanya. Ga jelas dan ngasal bikin judul aja. Gue emang lagi doyan
banget buat nulis. Mau ngawur ato ga nyambung, mohon dimaklumi aja. Lagi
belajar juga. Emang ia, gue ngerasa kata-kata pada “Judul” itu bagus dan
menarik. Kayak ungkapan yang biasa diucapin remaja sekarang, Cinta itu duri,
bukan tahi. Eh salah. Gue ralat ya, >> Cinta itu bukti, bukan
janji. Ini nih, baru benar. Ato seperti kata-kata andalan rakyat waktu
masa-masanya pilkada >> Kami butuh bukti, bukan janji.
Nah, sebagai mahasiswa jurusan Matematika, ga papa dong sesekali gue publish
tentang Matematika itu sendiri. Walau pun bukan secara umum, setidaknya udah
berani ngeluarin isi hati. *mati dong kalo is hati gue dikeluarin*.
:a: Gue rasa Matematika bisa juga
dikatakan seperti itu. Matematika itu bukti, bukan janji. Kenapa gue bilang
kayak gitu? Yah, memang seperti itulah Matematika. Kalo ga, berarti iya. Ga
boleh keduanya. Sama kayak lelaki yang setia, satu saja cukup. Ia ga bakal
pernah mau selingkuh. Ga bakal pernah pasang dua, tiga, apalagi lebih dari itu.
:b:
Untuk membuktikan sesuatu itu benar, maka haruslah diteliti dulu kebenarannya.
Tidak dengan cara menebak ato memberikan contoh saja. Akan tetapi perlu
pembuktian yang secara nyata dapat diterima menurut logika. Namun, juga ada
hal-hal yang secara logika dapat diterima namun tidak dapat dibuktikan.
Misalnya, 1+1=2. Ato kiamat itu pasti terjadi. Ada hal menarik yang baru gue
ketahui, ternyata akhir-akhir ini BPK (Badan Pemberantas Korupsi) di Indonesia
menerapkan prinsip logika matematika.







